Aku “Benci” Hidup di Jalanan

1-Anak-Jalanan-545x250Aku benci memiliki ritme aktivitas yang mengharuskanku mngukur jalan setiap hari. Bagiku, kemacetan bukanlah kebencian terbesarku pada jalanan. Entahlah, Aku hanya benci menikmati perjalananku.
Aku benci melihat bapak tua yang mangasongkan barang dagangannya. Aku benci melihat anak- anak menumpangi bis-bis di terminal, mengamen atau bahkan menjadi kernet salah satu bus di terminal. Aku benci melihat ramainya penjaja makanan di lampu merah. Aku benci melihat supir-supir angkutan yang terpaksa “menggaji” penguasa terminal. Aku benci melihat penyapu jalanan. Aku benci mendengar anak-anak membagikan amplop ke setiap penumpang bis, lalu memainkan alat musiknya yang terbuat dari botol air berisikan pasir.

Tuhan, mengapa kau biarkan kemiskinan terus melanda negeriku?
Adakan anak-anak itu rindu bermain dan bersekolah?
Adakah bapak tua itu mengeluh menjajakkan kakinya?
Adakah anak-anak itu merengek kepada orangtuanya, berharap mereka dibelikan mainan, baju baru, atau bahkan, pernahkah mereka bermimpi untuk terlahir seperti anak lainnya? Bersekolah, memiliki teman seusianya, atau menghadapi masalah besar karena tidak bisa mengerjakan PR matematika. Pasti masalah mereka lebih besar dari itu.
Aku ingin mengeluarkan mereka dari kemiskinan itu, Tuhan. kelak, jika Tuhanku mengijinkan, akan aku bawa mereka menikmati indahnya mencari ilmu. Amiinn…..🙂
Kemiskinan memang bukan takdir, ia adalah pilihan. Apakah mereka memilih untuk itu?
Sejatinya, kebodohanlah yang menjadi penyebabnya. Tidakkah mereka rindu mengukir simbol-simbol menjadi suatu kata, kemudian merantai menjadi kalimat? Rindu akan belajar mengeja dan berhitung. Apakah mereka sempat merasakannya?
Seolah terbiasa, kemudian membuang jauh asa – itukah yang ada dalam pikiran mereka? Mungkin baginya apalah daya keluh kesah mereka, toh jalanan adalah rumah kedua mereka.
Bangkitlah Indonesia-ku! Tidak ada kata terlambat untuk bercita-cita. Ketahuilah, bodoh adalah pangkal kemiskinan. Jika kau tidak ingin menikmati sulitnya belajar, maka telanlah pahitnya kebodohan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s