BUKAN GALAU

Sekedar Cerita

Jumat, 22 Agusts 2014.

PT Hydropower pukul 17.00. Bel pulang udah bunyi setengah jam yang lalu. Tapi, gue masih berkonsentrasi pada layar monitor. Bukan karena kerjaan yang banyak. Tapi memang jam pulang hari ini berbeda. Dimajukan 30 menit dan berbeda pula dari jam kantor staff lainnya. Aneh memang. Tapi yasudahlah. Nikmatin saja.

Di sini adalah perusahaan ke-6 tempat saya bekerja. Tapi sepertinya nyawa di sini sudah akan berakhir di akhir bulan ini. Bukan karena tidak betah, atau gaji kecil. Atau alasan apapun yang mendasari seseorang keluar kerja. Bukan itu. Ada banyak cerita yg sudah dilalui di sini. Hari ini adalah hari ke-5 saya bekerja di sini. Semua rekan terlihat baik. Fasilitas yang baik, ruangan yang nyaman dan sangat privasi. Ritme pekerjaan yang tidak terlalu berat. Semuanya serba enak. Juga menjadi anak kost yang berbeda seperti sebelumnya. Ibu kost yang baik. Toilet bersih, sarana lumayan baik. Terus apa yang bikin nyawanya mau hilang? Entahlah. Aku merumuskan beberapa hal tentang tempat ini dan keputusan berikutnya. Di sini terlalu nyaman, terlalu jauh dari rumah. Terlalu asik dengan duniaku nantinya. Kembali, aku merasakan ada sesak di sini. Ada kesedihan di dalam hati. Aku tidak tau apa. Tapi, aku memastikan, ini adalah tentang ambisiku.

Setelah resign dari perusahaan terdahulu. Perusahaan yang memberikan banyak ilmu. Gue berpikir untuk bisa bekerja dengan hal-hal yang lebih baik lagi. Dengan gaji yang lebih bagus, fasilitas yang lebih baik, dan semuanya yang lebih baik. Terus untuk apa semua itu? Gue juga ga tau. Mungkin hanya sekedar ambisi.

Ada empat perusahaan/ tempat yang saya datangi untuk interview dari beberapa tempat yang menjadwalkan interview. Pertama adalah Islamic International School, kedua salah satu the world’s leading certification, ketiga di sini dan yang terakhir manufacture di dekat rumah. I made a priority and you know? This place is actually my last priority. I crave to work in the second place. I made it to be my top priority then the last place, the first place and the last is my job now.

Mungkin di sini yang terbaik. Wallahu’alam. Aku selalu meminta petunjukNya. Semoga semua yang aku inginkan diberi petunjuk. Jika memang top priority aku bukan yang terbaik, maka jangan ada informasi mengenai kelanjutan kerja di sana. Tapi, I received a call from the company to continue the recruitment process. God, is it the best for me? Tidak sesederhana itu memutuskannya. Saya selalu ingin menjalin hubungan baik dengan siapapun. Kelak, ketika aku memilih untuk resign dari sini. Apa yang harus aku katakana? Aku tidak memiliki keberanian untuk memutuskan – untuk mengatakan hal ini. Mereka semua baik. All is well here.

Tapi, apapun yang aku ambil. Semoga yang terbaik. Terlebih aku tidak memutuskan sendiri. Aku meminta banyak saran dari teman. Beberapa pertimbangan matang. Kadang untuk mendapatkan sesuatu memang harus mengakhiri sesuatu yang lain. Harus mengorbankan hal lain. Di sini memang baik. Tapi mungkin zona nyaman ini memang harus diakhiri. Pertimbangan yang lainnya yang tidak perlu saya sebutkan. Semoga kelak, apapun hasilnya tidak menyakiti banyak pihak. Aamiin….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s