.”. Challenge .”.

She’s so lucky, she’s a star

But  she cries cries in her lonely heart-thinking

Yups, One of my favorite singer – Britney Spears!

The song isn’t exactly about me, I don’t know why I wrote the song in my first paragraph but, I must have the reason. This is my story about lucky!😀

If I could screammmmmm loudly. Yes, exactly I will! Do you know something? It’s actually wanna be shared for about a week a go. But, I don’t wanna tell anyone about it before I really know what the result is.

Alhamdulillah, million thanks to Him – Allah SWT who gives me many chances to  improve my self through the darkness and sadness I have passed and also many many thanks for Him to allow me being a new student again – a real student. And because of Him also, it happens.

September 08th, 2013. Hari ini adalah hari di mana Aku lama mengharapkannya. It’s about 4 years to make it true. Before the day, I registered to enter a university exactly in my birthday on Auguts 27th, 2013. Akhirnya hari ini adalah pengumuman hasil tes yang telah dijalankan kurang lebih 2 jam – minggu kemarin 8 September 2013. Sebenernya jadwal pengumuman dijadwalkan pada hari Rabu 11 September 2013 via web resmi kampus tersebut. Tapi, I’m so curious about the result I did, dari siang udah berkali-kali coba liat hasilnya dengan memasukan No pendaftaran ke dalam kolom “Hasil PMB” tapi lagi dan lagi terdapat notifikasi “the web under maintenance”. Dan, I got the result just now!

Congratulation for me of course. \=D/

Sebenernya kemarin-kemarin itu mau curhat panjang kali lebar di sini, tapi tiap kali pulang kerja udah ngantuk banget dan ga ada satu alesan pun yang bikin gue mau melek, sekalipun niat untuk curhat itu gede banget. Tapi yaaa…. Now it’s time to me sharing my big achievment. Lebay banget sebenernya, tapi emang seneng banget dan kemaren itu niatan curhatnya bukan tentang ini. Tapi tentang segala pengalaman hebat yang terjadi dalam hidup gue.

Ada banyak hal banget yang terjadi di setiap hidup seseorang, dan semua itu gue yakin mempunyai hikmah tersendiri, tinggal bagaimana cara anda menanggapinya saja. Gue mungkin adalah salah satu dari orang tersebut yang menyadari hal tersebut lama, lambat, lola, ga quick respond. Adalah benar bahwa kalimat sederhana “Semua pasti ada hikmahnya” juga sering gue denger, dan mungkin karna kalimat tersebut sering didengar pula sampai gue sendiri tidak menganggapnya kalimat yang berarti – dulu.

And… this is my story,

PT ES GE PE, pabrikan ke 5 tempat saya bekerja. The most weird company I ever worked! Ini bukan soal tempat yang horror atau tempat semacam penindasan umat manusia. Tapi, ini lebih kepada gemblengan untuk diri saya pribadi. Di tempat pabrikan pertama, gue dididik sedemikian manja, menjadi admin officer yang bersih dari pekerjaan menyusahkan. Walaupun ketika itu, buat gue tempat ini cukup sulit dimengerti system dan peraturan kerjanya. Sampai akhirnya gue keluar dengan catatan buruk karena berantem di sana. But well, Hikmahnya adalah ada tempat lain yang memiliki banyak cerita luar biasa, bukan diukur menurut level karir atau nominal salary, apalagi perusahaan elite yang di dalamnya adalah alumni-alumni dari almamater bergengsi. Bukan! Bukan banget. Ini lebih kepada perjalanan spiritual. Kenapa? Ketika itu, ada satu teman mengatakan; “lu itu adalah orang yang beruntung!” sering banget dia bilang gitu ke gue. I never told anyone there (ES GE PE) about my self, my life, my family or anything related to me. Yang dia lihat, gue pintar (menurutnya gue itu adalah lulusan SMA yang mampu bekerja di beberapa perusahaan dengan skill yang tidak dimiliki anak SMA lainnya dalam bekerja), gue itu punya pacar yang baik banget (karna yang dia tau cowo gue selalu anter jemput gue, beliin gue smartphone, bawain gue sarapan dll), punya banyak teman (mungkin menurutnya gue adalah satu-satunya teman dia yang ketika baru masuk kerja langsung berbaur dengan semua kalangan dari semua department). Bagi gue, itu semua adalah hal yang TIDAK BISA dikatakan benar. Pasti masiiiih banyak lagi yg jauh lebih beruntung dari gue. Pastinya. Tapi, am I a lucky girl? Bisa jadi, tapi…. Orang tidak bisa begitu saja dikatakan beruntung hanya karena gue punya skill yang lebih dari anak SMA pada umumnya dan itu adalah salah besar! Pasalnya, skill tersebut bukan semata-mata jatuh dari langit ke dalam diri gue, banyak proses di dalamnya, termasuk perjalanan di Bogor EduCARE yang menjadikan skill itu semakin matang, juga soal pendamping hidup yang dianggapnya sebelah mata. Dari mana dia bisa menilai sedemikian rupa tentang gue dan pasangan gue yang jelas kami adalah peran utama yang memainkan peranan hidup di dalamnya. Susah senang kami, sakit hati, bahagia dan lain-lain yang sampai sekarang menjadikan kita bertahan. Bukankah keberuntungan pula tidak diukur dari seberapa sering dia memberikan sarapan, atau bahkan seberapa mahal yang kita terima. Jadi keberuntungan di hidup gue itu yang mana?

Cerita yang biasa-biasa saja ini mungkin tidak akan menjadi biasa untuk gue.

TK, SD, SMP, SMA di sekolah yang salam selama belasan tahun. Kanak-kanak, beranjak remaja, remaja, beranjak dewasa selalu disuguhkan dengan lingkungan yg sama. Itulah kenyataan yang harus saya terima dan saya lalui. Keterbatasan financial untuk melanjutkan pendidikan pun harus saya terima, sampai akhirnya ada suatu Yayasan Peduli Pendidikan yang berhasil mengeluarkan gue dari situasi yang sama selama belasan tahun.

My English was very poor. Pelajaran Bahasa Inggris mungkin akan menjadi subject tersulit yang saya temui ketika SMP, bertemu dengan guru yang sama selama tiga tahun tentu tidak berpengaruh besar terhadap nilai Bahasa Inggris gue. Nyontek, Kabur, kena semprot sudah hal yang biasa setiap kali pelajaran ini akan dimulai. Sampai akhirnya, I tried to make my English better. Dengan bermodalkan buku panduan yang biasa dijual di pinggir jalan atau bahkan di bis akhirnya sedikit demi sedikit Bahasa Inggris gue semakin  baik. Sepulang sekolah  gue langsung masuk kamar dan menguncinya karena tidak ingin ada yang tau kalau seumur gue masih belajar Bahasa Inggris dengan buku untuk anak-anak seperti itu. Sampai semua materi yang disampaikan di dalamnya benar-benar dimengerti. Dan mungkin semua orang akan lupa bahwa aku adalah siswi terbodoh dalam subjek tersebut – dulu.

Sampai ketika SMA, gue memiliki guru Bahasa Inggris yang berbeda di setiap semester. Dan ketiganya telah membuat teman-temanku iri terhadap sikap pilih kasih mereka terhadapku. Yaa… ketiganya memang sangat subjektif menilai seseorang dan beruntunglah gue karena selalu menjadi yang terbaik di setiap pelajaran yang mereka ajarkan.  #luckyme

Besar harapan agar dapat kuliah setelah lulus sekolah. Berdoa di setiap sujudku, tidak bosan untuk meminta kepada-Nya tentang keinginan tersebut. Bagi yang lain mungkin kuliah adalah hal yang mudah didapatkan, tapi tidak untukku. Sampai ketika yang lain sedang merajut persiapannya untuk kuliah, gue sendiri merajut doa kepada-Nya untuk bisa kuliah. Yaa.. saya memang kuliah, kuliah di tempat yang tidak akan pernah saya sesali meski tidak mendapatkan gelar, meski setelahnya harus bersusah payah membuktikan bahwa saya mampu. Tempat kuliah di mana mahasiswanya dipersiapkan untuk memasuki dunia kerja. Dan….. di umur yang seharusnya masih duduk di bangku kuliah, membentuk idealisme dan intelektual pada pribadi masing-masing, sedang gue masih harus berusaha untuk itu, berusaha dengan bekerja. Dan, tidak semudah yang dibayangkan, seandainya bisa diulang ke 4 tahun sebelumnya, mungkin setelah lulus kemudian bekerja, penghasilannya akan gue tabung untuk kembali kuliah, dan seharusnya saat ini sudah menjadi tahun ke tiga di bangku kuliah. Tapi, kasih sayangNya begitu besar, Dia masih ingin memberikan pelajaran yang lain untuk diambil ketimbang pelajaran yang harus saya dapat di bangku kuliah.

Tahun pertama bekerja, penghasilan gue dihabiskan untuk berbelanja make up, membeli tas, baju, sepatu, aksesoris, dan keluar masuk XXI, salon, dan tempat-tempat yang jauh dari kata manfaat.

Tetapi, kepadanya aku belajar. Belajar mengetahui mana  yang penting dan tidak. Belajar mengetahui bahwa masih banyak yang harus diselesaikan dari pada menghabiskan uang secara sia-sia. Dan, kesadaran tersebut baru muncul dan benar-benar muncul ketika gue bekerja di ES GE PE.

Kedengarannya sederhana, betapa tidak? Perempuan menghabiskan waktunya untuk mempercantik diri dengan penghasilannya adalah hal yang wajar. Sangat wajar. Tetapi Tuhan tidak menginginkan itu terhadapku.

Seandainya makeup – makeup itu dapat ku uangkan kembali, ratusan ribu yang keluar untuk sekedar membeli nail polish dapat ditabung, seandainya kalung-kalung itu dibelikan emas, seandainya tiket XXI dapat ditukar dengan buku-buku di Gramedia, seandainya jutaan perawatan dapat diinvestasikan untuk kuliah, yaaa… hanya seandainya.

Bagaimanapun aku tidak boleh menyesalinya. Dan semua itu membuktikan bahwa tidak ada yang lebih baik dari meninggalkan hal-hal buruk tersebut. Dan tak perlu disesali pula, karna hikmahnya pun banyak sekali.

Terimakasih Yaa Allah, atas semua pelajaran yang Engkau berikan.

Juga, atas kehadiran orang-orang di sekelilingku yang Engkau ciptakan untuk menyadarkanku. Dengan mereka, mungkin aku tidak akan pernah sadar arti dimusuhi, tidak disukai, dibenci dsb.

Yaa… beruntunglah karena aku tidak merasakan kesombongan yang mereka lakukan, orang-orang yang kelak aku akan menjadi seperti mereka jika aku tidak merubah sikapku.

Engkau tahu Rabb, betapa lama aku menyadarinya, betapa bodoh aku jika melakukannya. Engkau Maha Mengetahui apa yang hamba butuhkan. Atas keinginan hamba untuk kembali kuliahpun, betapa besar kasihh sayang yang hamba rasakan dari Mu yaa Rabb. Ketika keinginan untuk kuliah dengan jurusan baru yang aku pun tidak memiliki basic yang  baik untuk itu, maka Engkaupun menyulitkannya. Dan menghadiahiku Jurusan yang aku yakin ini yang terbaik, sebuah jurusan yang biasa di mata yang lain, tapi tidak untukku. Yaa… English Literature, the major I chose.

Dan untuk semua hal kecil yang aku inginkan, dan tidak Engkau berikanpun namun Kau ganti dengan yang jauuuuhhhhhhhhh lebih baik. Untuk semua kesulitan yang dapat merubah hidupku. Untuk semua rasa sakit yang aku terima. Aku yakin, Engkau begitu menyayangiku sehingga melimpahkan hal –hal yang baik dalam hidupku.

Walau terasa sulit di awal, aku yakin ini adalah hal yang baik. Mesik terlambat dimulai, tetapi semoga tidak akan ada penyesalan berikutnya atas akibat dari kebodohan yang aku lalui.

Semua keberuntungan dalam hidupku yang tidak aku sebutkan semua. Semua keterlibatan orang-orang di sekelilingku yang memiliki peran tersendiri. Terimakasih sebesar-sebesarnya Rabbiii…..

Kelak, aku berjanji akan menjadi pribadi yang lebih baik di chapter kehidupanku yang baru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s